Kisah Sukses Sudono Salim Alias Om Liem, Pendiri Group Indofood, Dan Pelajaran Bisnis Yang Bisa Diambil Kewirausahaannya

Sudono Salim alias Om Liem, pendiri Group Indofood


Memang tidak semua masyarakat mengetahui sosok pengusaha terkemuka Sudono Salim (Alm) atau yang punya nama asli Liem Sioe Liong. Namun tentu jutaan masyarakat mengetahui merek dari produk yang dihasilkan perusahaan yang dibangun Sudodo Salim. Pria yang dulu biasa dipanggil Om Liem itu merupakan pendiri PT Indofood Sukses Makmur yang menghasilkan produk-produk terkenal di mata konsumen Indonesia, khususnya merek Indomie, Supermie, Sarimi dan minyak goreng Bimoli.

Tak berlebihan bila dikatakan, puluhan juta orang Indonesia pernah mencicipi produk mi instan merek Indomie. Produk ini disukai semua kelas sosial, baik kelas ekonomi bawah, menengah, ataupun kalangan berpunya. Bahkan produk ini juga laku dan digemari di konsumen di berbagai mancanegara sehingga Indomie itu juga diekspor ke banyak negara. Di beberapa negara Afrika, merek Indomie juga populer seperti di Indonesia. 

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah sukses Sudono Salim (Om Liem) dalam menggeluti dunia bisnis. Kisah pendiri Indofood ini bisa menjadi inspirasi bagi kalangan perintis usaha yang masih muda usia dan sedang merintis usaha dari bawah. 


Seorang Perantau Yang Pekerja Keras, Mengadu Nasib ke Indonesia

Sukses Indofood Group dan produk-produknya jelas tak bisa dilepaskan dari kisah hidup Om Liem. Seorang pengusaha yang awalnya sangat miskin.  Sudono Salim yang di era tahun 1980-an sering dinobatkan sebagai pengusaha terkaya Indonesia dan salah satu terkaya Asia itu memang lahir di Tiongkok, China Daratan. 

Liem Sioe Liong lahir di distrik Fuqing, Provinsi Fujian, Tiongkok pada 16 Juli 1916. Saat ia remaja, Sudono dan kakaknya, Lim Ke Lok, dan juga saudara iparnya yang bernama Zheng Xusheng, pergi merantau ke Indonesia karena terjadinya konflik di tempat asalnya. Mereka kemudian datang ke kota Surabaya, Jawa Timur dan menetap di kota Kudus. Ia ingin mengubah nasib dengan cara merantau ke tanah Nusantara, tepatnya ke Jawa. Berangkatlah dari Tiongkok ke Tanah Jawa melalui perjalanan laut.

Perjalanan Om Liem ke Indonesia tak mudah. Ia harus menaiki kapal layar tanpa mesin untuk dapat sampai ke Surabaya. Bisa dibayangkan betapa lamanya perjalanan Om Liem saat itu, kapal tak bermesin. Kakak Om Liem sudah lebih dahulu merantau Indonesia dari sejak zaman Hindia Belanda. Saat menunggu sang kakak menjemputnya di pelabuhan, LiemSioe Liong yang baru saja datang  dari Tiongkok sampai harus rela menjadi seorang gelandangan selama beberapa hari. Apa boleh buat. Ia tak tahu dimana rumah kakaknya. Satu-satunnya cara, menunggu dijemput. Dan waktu itu belum ada alat komunikasi secanggih sekarang. 


Setelah beberapa hari, sang kakak akhirnya datang dan menjemputnya. Ia diajak bergabung dengan kakaknya. Sejak saat itu, ia kemudian menjadi penduduk Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda, wilayah kolonisasi Belanda. Om Liem bahkan mendapatkan pekerjaan, sebagai buruh atau pekerja di sebuah pabrik pembuatan tahu dan kerupuk. Sejak itulah cerita kiprah bisnis Om Liem dimulai.


Menjadi Karyawan, Tapi Aktif Cari Peluang Bisnis Di Kanan-Kiri 

Om Liem memang punya bakat bisnis yang alami dan pandai membaca celah kesempatan dan peluang bisnis, serta mewujudkannya. Saat tiba di Jawa Timur ia bekerja sebagai seorang pekerja biasa di pabrik pembuatan tahu dan kerupuk, di lain sisi ia juga melirik peluang bisnis yang barangkali muncul di kanan-kiri. Ia bukan pekerja pasif yang sekedar kerja menerima nasib dan tak berpikir masa depan yang lebih baik. Salah satunya adalah, Om Liem melihat potensi yang berada di kota tempatnya tinggal, Kudus, Jawa Timur. Dan salah satu yang menarik perhatian dari naluri bisnis laki-laki kelahiran Tiongkok tersebut adalah bisnis rokok.

Di kota Kudus pada saat itu, Om Liem melihat bahwa kota tempatnya tinggal tersebut memiliki banyak sekali industri rokok yang dapat menjadi sebuah potensi bisnis baginya. Namun demikian, pasokan akan tembakau dan cengkeh dianggapnya minim. Ia lalu menggarap peluang binis itu dengan berusaha terjun di bisnis bisnis pemasok cengkeh serta tembakau.

Untuk memulai bisnisnya ini, pastinya dibutuhkan modal yang cukup lumayan. Sedangkan ia saat itu hanyalah seorang pegawai biasa. Pada akhirnya, modal untuk melakukan bisnis tersebut didapatkannya dari sang mertua. Ia memang menikah dengan seorang anak dari pedagang atau saudagar terpandang di wilayah Kudus Lie Kim Nio (Lilani).

Bisnis tembakau dan cengkeh yang dijalankannya Om Liem sukses.  Dalam waktu yang cukup singkat, Salim sudah dikenal sebagai seorang bandar cengkeh asal Kudus yang memiliki koneksi hingga ke pulau-pulau lain seperti Sulawesi dan Sumatera. Selain bisnis cengkeh, seiring berjalannya waktu, Salim juga menjadi orang yang menyediakan pasokan barang-barang medis untuk tentara revolusioner Indonesia di Medan. Dia menyalurkan pasokan tersebut dan kemudian mengenal Soeharto yang kala itu masih menjabat sebagai perwira tentara Indonesia.


Sempat Tersandung dan Gagal

Bisnis perdagangan cengkeh yang dijalankan Sudono Salim terus tumbuh baik. Namun suatu kali mengalami hambatan besar. Pada tahun 1942, ketika Indonesia berada dibawah kekuasaan Jepang yang baru saja menduduki Hindia Belanda, hampir seluruh kegiatan masyarakat termasuk berbagai bisnis harus dihentikan. Hal itu berlanjut selama lebih dari 3 tahun hingga Jepang pergi dari tanah Nusantara.  Otomatis bisnis Om Liem juga terdampak. Bisnisnya terhambat karena dihentikan oleh pihak Jepang saat itu. 

Setelah Indonesia merdeka, Sudono Salim memutuskan pindah tempat tinggal ke Ibukota, Jakarta. Di Jakarta ia mulai bisnis dari nol kembali. Ia mulai merintis jaringan dan peluang-peluang baru. Salah satu bisnis pertama yang dia garap di Jakarta,  ia bekerja sama dengan beberapa perusahaan asal Tiongkok dan Hong Kong untuk menjadi pemasok utama produk kebersihan berupa sabun kepada Tentara Nasional Indonesia. Ia menjadi supplier untuk kebutuhan dinas ketentaraan.  Tentu hal ini bisa menjadi pembelajaran yang baik bagi pengusaha. Om Liem yang bukan orang pribumi tapi ia tak takut berurusan dengan birokrasi dan memasok instansi tentara. Dan lihat lah sekarang, banyak pebisnis pribumi yang untuk memasok ke dinas ketentaraan tak bisa karena merasa tak punya akses. Padahal akses itu bisa dibangun, dirintis dan dikreasikan. Dengan modal komunikasi yang baik, harusnya itu bisa dilakukan.  



Peluang bisnis yang digarap Om Liem tidak hanya sebagai pemasok kebutuhan tentara. Melihat bahwa kesulitan ekonomi cukup menjadi masalah di awal terbentuknya pemerintahan Indonesia, ia melihat ada peluang bisnis bank dan perkreditan. Ia lalu mendirikan sebuah bank bersama Mochtar Riady, orang kepercayaannya. Bank tersebut diberi nama Central Bank Asia yang kemudian hari berganti nama menjadi Bank Central Asia yang kita kenal hingga saat ini. Ini bank swasta terbesar hingga saat ini -- walaupun pemilik utamanya sudah berganti. BCA termasuk bank swasta dengan manajemen terbaik dan sehat secara bisnis.  


Merambah Sektor-Sektor Bisnis Lainnya

Om Liem terus bergerak mencari peluang bisnis baru. Ia melihat bisnis produksi pangan sebagai peluang yang menggiurkan dan akan selalu dibutuhkan. Tidak ada matinya. Ia lalu memilih bisnis tepung terigu karena tepung terigu juga merupakan salah satu bahan pokok pembuatan pangan seperti roti, mi, dan lainnya. Sudono Salim lalu mendirikan perusahaan yang bergerak dalam penjualan dan produksi tepung terigu bernama PT Bogasari pada tahun 1968 yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

PT Bogasari ini dalam perkembanganya sangat sukses dan produknya terkenal di mana-mana. Tidak puas dengan makanan, Salim juga merambah sektor lainnya. Salah satunya adalah produksi bahan bangunan. Bekerja sama dengan para pebisnis dari luar negeri, Salim mendirikan sebuah perusahaan pemasok semen yang bernama Indocement. Perusahaan yang menjadi raksasa dalam ranah penjualan semen yang didirikan pria kelahiran Tiongkok pada tahun 1973 dan masih bertahan hingga saat ini.  

Bahkan di luar bisnis-bisnis tadi, Om Liem juga mendirikan ratusan perusahaan lainnya. Mulai dari bisnis kimia, properti, otomotif, keuangan, asuransi, manufaktur, perkebunan, dan banyak bisnis lainnya. Tidak semua bisnisnya dikerjakan sendiri, namun banyak yang melalui pola kerjasama dengan investor lain dimana Salim Group tetap sebagai pemegang saham kontrol. Tak heran bila Om Liem kemudian sukses membangun konglomerasi dibawah Salim Group atau Indofood Group. Sampai sekarang Indofood Group masih merupakan perusahaan consumer good terbesar di Indonesia.  



Bisnis mie instan

Bogasari dalam perkembangannya memang tumbuh menjadi korporasi besar, di bidang produksi tepung terigu. Bahkan, setelah itu Om Liem kemudian juga mengembangkan bisnis hilir dari terigu, yakni memproduksi makanan olahan tepung terigu berupa mi instan. Perusahaan tersebut diberi nama Indofood dan produk mie instant itu diberi nama Indomie. Resmi didirikan pada tahun 1990, Indofood langsung menarik perhatian masyarakat dengan produk-produknya.

Saat pertama kali diluncurkan, Indomie yang merupakan produk unggulan Indofood itu hanya punya dua varian rasa yaitu sari ayam dan sari udang. Namun inovasi dari pilihan rasa Indomie terus dikembangkan hingga saat ini Indomie punya  puluhan jenis varian rasa. Beberapa varian sudah tidak diproduksi lagi karena kurang populer, namun yang menjadi buah bibir dan terkenal hingga ke mancanegara salah satunya ada varian rasa Mie Goreng, Ayam Bawang, Kari Ayam.

Kesuksesan Indomie sangat fenomenal. Indomie bahkan sangat terkenal di luar negeri hingga menjadi seperti bahan panganan pokok di salah satu negara Afrika, yakni Nigeria. Indomie sangat populer dan disukai konsumen. Harganya relatif murah, rasa enak, dan memiliki kalori yang cukup sebagai menu makanan pokok. Tak heran, walau banyak perusahaan ingin masuk menggarap bisnis mie instan, namun tak ada yang bisa mengalahkan Indomie.  Merek Indomie akhirnya menjadi 10 merek paling disukai dan dikenal masyarakat di Indonesia.


Pelajaran Yang Bisa Diambil

Om Liem pun bisnisnya berkembang pesat dan makin berkembang biak. Saat ia wafat, ada ratusan entitas perusahaan yang dia tinggalkan ke anak cucunya. Bisnisnya tak hanya di Indonesia, namun juga sangat kuat di Philipina dan Hongkong. Ia bukan pengusaha yang hanya hebat di Indonesia, namun juga di banyak negara Asia.

Beberapa pelajaran yang bisa diambil dari sukses Om Liem. Ia sosok mau berjuang untuk merubah nasibnya. Ia pergi ke Indonesia dari Tiongkok menaiki kapal tak bermesin dan sesampai di Jawa bekerja sebagai buruh.  Tapi Om Liem juga sadar bahwa harus merubah nasib dengan kerja keras bila ingin punya masa depan yang lebih baik. Makanya, meskipun di awal ia hanya seorang buruh, namun mata dan pendengarannya terus mencari peluang bisnis untuk dikembangkan. Om Liem juga bisa dipelajari dari cara dia mengelola produk. Ia sangat menyadari pentingnya membangun merek. Tak heran bila produk-produknya ngetop di masyarakat.

Lebih dari itu, Om Liem itu juga pandai memilih orang kepercayaan. Tak banyak yang tahu, Om Liem itu besar dan kaya karena dibantu mitra-mitra bisnis yang menjadi direktur di anak-anak usaha yang ia dirikan. Biasanya Om Liem memodali sebuah bisnis baru dan mitranya diberi saham. Si mitra itu yang kemudian membesarkan bisnis, mengelola operasional, dan melakukan report ke Om Liem. Om Liem mengontrol strategi dan kinerja keuangan. 

Banyak yang tak tahu hal ini. Almarhum Om Liem itu tidak membesarkan bisnis sendirian. Namun ia melakukan sinergi dan sharing dengan mitra-mitra bisnisnya yang biasanya ia angkat sebagai CEO atau direktur di perusahaan. Mayoritas saham tetap dikendalikan Om Liem, namun ia memberikan kesempatan ke mitranya dan anaknya untuk punya saham. Strategi win-win inilah yang menjadi salah satu kunci sukses Om Liem hingga menjadi konglomerat terkaya nomor 1 di Indonesia pada era 1980-an. Dan sampai saat ini, Group Salim tetap menjadi konglomerasi top three di Indonesia saat Group Salim dikelola anak dan cucunya. 


Bacaan lain: 

Lebih baru Lebih lama