Belajar Dari Pengusaha Muslim Terkaya Dunia, Azim Premji


Bagi mereka yang bergerak di dunia teknologi informasi (TI), pada umumnya tahu perusahaan TI dunia yang bernama Wipro Limited. Ini ini salah satu perusahaan TI yang sudah mendunia, bergerak di bidang software TI, services dan hardware. Di Indonesia pun cabang perusahaann Wipro juga ada. Namun tak banyak yang tahu, bahwa Wipro Group dimiliki oleh pengusaha muslim. Nama pemiliknya, Azim Premji, pengusaha Muslim asal India.

Azim Premji, nama lengkapnya Azim Hasham Premji, lahir di Mumbai 24 Juli 1945, adalah wirausahawan tersukses India yang membuat Group Wipro menjadi pemain dunia di bidang industri perangkat lunak (software). Kini Premji, bintang bisnis di India ini,  termasuk salah satu orang terkaya dunia --menurut sejumlah majalah bisnis internasional. Tahun lalu, Forbes melaporkan Premji memiliki kekayaan bersih $ 7,2 miliar (sekitar Rp 100 triliun). Dia memperoleh kekayaannya dari kepemilikannya atas saham Wipro Limited (WIT), sebuah perusahaan teknologi informasi (TI) sebagai agen outsourcing layanan TI besar di India. Tapi Premji bukan hanya dikenal karena kaya namun juga karena kedermawanannya.

Bagaimana bisnisnya sehingga ia bisa sukses menjadi pengusaha besar?

Premji bukanlah pengusaha yang sukses dan bisa menjadi pengusaha besar karena warisan. Ayahnya memang merupakan seorang pelaku bisnis, namun bukan pengusaha besar. Ayahnya mengelola perusahaan kecil di bidang minyak goreng milik keluarga besarnya. Ketika Premji lahir ayahnya masih mengelola usaha keluarga tersebut. Ketika pemerintah kolonial India membagi India menjadi Hindu India dan Pakistan Muslim, tetapi ayah Premji yang merupakan keluarga Muslim memilih untuk tetap tinggal di India.

Pada 1966, musibah terjadi. Ketika itu ia Premji belum selesai kuliah sarjana teknik di Universitas Stanford namun tiba-tiba ayahnya meninggal dunia secara mendadak. Premji memutuskan menunda kelulusannya, dan kemudian kembali ke India untuk berbisnis, melanjutkan usaha keluarga yang ditinggal ayahnya. Ia mengorbankan kepentingan dirinya, memilih pulang ke India dan melanjutkan usaha kecil di bidang minyak goreng tersebut.

Setelah mengambilalih usaha keluarga, Premji berusahaan melakukan sejumlah inovasi untuk perusahaan keluarganya, termasuk dengan melakukan diversifikasi produk. Tak hanya memproduksi minyak goreng, namun mulai melakukan diversifikasi dengan memproduksi produk consumer good seperti sabun, sepatu, dan bola lampu, serta silinder hidrolik.

Insting bisnis Premji memang  tajam. Momentum yang  menjadi pengubah nasibnya terjadi pada menjelang tahun 1980. Premji waktu itu sudah mengganti nama perusahaannya dari Western Indian Vegetable Products Ltd menjadi WIPRO Ltd dan saat itu ia mulai melirik bisnis teknologi informasi.

Pasalnya pada tahun 1979 pemerintah India meminta perusahaan TI besar Amerika di India, IBM, untuk meninggalkan negara itu. Premji melihat hal itu menjadi peluang bisnis bagi pemain lokal untuk berbisnis komputer. Karena itu ia lalu mengarahkan pengembangan bisnis Wipro ke arah bisnis komputer. Tentu saja itu bukan pekerjaan mudah karena sebelumnya tidak punya kompetensi dan pengalaman bisnis bidang TI, sebelumnya bisnis minyak goreng dan consumer.

Tapi ada pepatah  "kalau mau maju gandenglah orang yang lebih pintar", Premji juga melakukan itu. Untuk menguasai dunia TI, ia dan Wipro Ltd rajin menjalin kerjasama dan mendirikan sejumlah kemitraan internasional. Darisana Wipro mendapatkan ilmu technical know how. Dan benar, tahun 1980-an Wipro dibantu mitra-mitranya sukses mengembangkan produk hardware komputer untuk dijual di India. Produknya di luar dugaan, sangat sukses. Hingga akhirnya kemudian juga mengembangkan kompetensi baru di bidang pembuatan software komputer. Pengembangan bisnis software ini yang membuat Wipro sukses besar dan mendunia.

Premji membangun reputasi untuk merekrut orang-orang terbaik dan memberikan mereka pelatihan yang terbaik ke timnya. Ia mengambil keuntungan dan momentum dari banyaknya ahli developer perangkat lunak berpendidikan tinggi di India yang bersedia bekerja bayaran lebih murah dibanding rekan-rekan mereka di Amerika. Wipro pun berkonsentrasi pada pengembangan perangkat lunak khusus untuk ekspor, terutama ke Amerika Serikat. Luar biasa. Inilah yang kemudian menjadi tonggak hingga kemudian Wipro mendunia dan bisa ekspansi menjadi perusahaan besar dunia. Premji mengubah sebuah perusahaan kecil minyak goreng milik keluarga menjadi Wipro Limited, sebuah konglomerat multinasional yang berfokus pada penyediaan layanan teknologi.

Pada Juli 2019, Azim Premji mengundurkan diri sebagai Ketua Dewan Pengawas Wipro dan meminta anaknya, Rishad, untuk menggantikannya. Dalam laporan tahunan 2018-2019, disebutkan bahwa pendapatan tahunan Wipro sudah mencapai $ 8,4 miliar (sekitar Rp 120 triliun). Di luar Wipro, Azim Premji juga memiliki perusahaan manajemen investasi keluarganya sendiri, Premji Invest, yang mengelola sekitar $ 1 miliar dari kekayaan pribadinya dan berinvestasi di banyak perusahaan publik maupun swasta, di luar Wipro.

Meski bergelimang uang, Premji tak rakus hanya mengejar uang. Ia telah membuat komitmen diri untuk menyumbangkan sebagian besar kekayaan pribadinya untuk berbagai kegiatan amal dan sosial. Ia telah memberikan tak kurang $ 21 miliar untuk meningkatkan kehidupan warga India, terutama untuk pengembangan pendidikan dasar di India. Di tahun 2019 saja, menurut catatan majalah Forbes, Azim Premji sudah menghibahkan uangnya untuk filantropi yang terbesar di India, dengan menyumbangkan $ 7,6 miliar sahamnya di Wipro Limited untuk amal.

Itulah Azim Premji, seoarang anak India muslim yang mewarisi usaha sederhana Bapaknya dan kemudian merubahnya menjadi perusahaan TI besar dunia, Wipro Group dengan omset per tahun miliaran dollar dan sukses hadir di banyak negara, tak hanya di India. Jelas, Premji layak menjadi cermin dan penyemangat kalangan pengusaha muda Indonesia.Selamat berbisnis !( Dea)

Lebih baru Lebih lama