Banyak Investor Asing Cari Partner Lokal, Siap Tanam Uang Modal, Termasuk Kalangan Private Equity Ini

Diupdate pada 15 Mei  2021


Banyak pelaku bisnis yang tidak menyadari bahwa sebenarnya banyak investor luar negeri (investor asing) ingin masuk ke Indonesia dan menanamkan modal (uang) untuk berinvestasi di Indonesia. Mereka ingin berkongsi dengan perusahaan-perusahaan terpercaya di Indonesia. Mereka melihat Indonesia sebagai salah satu negara dengan prospek pertumbuhan bisnis yang sangat bagus kedepan. Jumlah penduduknya lebih dari 200 juta orang, income perkapita makin naik, sumber daya alam melimpah, dan  banyak alasan lain.

Para investor global sangat perlu memutar uang di negara yang punya potensi besar seperti di Indonesia. Di negara-negara asalnya, seperti Jepang misalnya, untuk mengejar pertumbuhan bisnis itu sudah sangat sulit. Disana pertumbuhan bisnis sudah flat. Marketnya sudah saturated. Disana kalau kita menaruh uang di tabungan deposito, bunga deposito bahkan dibawah 3% setahun. Karena itu mereka mencari negara-negara lain yang potensinya masih besar, yang masih bisa tumbuh cepat perekonomian dan bisnisnya. Untuk itulah mereka mencari mitra-mitra  lokal yang credible, bisa dipercaya, dan bisa diajak mengembangkan bisnis.

Umumnya investor luar negeri litu ebih suka menggandeng (mengajak) pemain lokal yang sudah berpengalaman di bisnisnya, lalu diajak bikin kongsi. Kongsi itu bisa dengan cara melakukan akuisisi perusahaan besar yang sudah ada, bisa juga mendirikan sebuah usaha baru secara bersama. Tapi jarang sekali ada investor asing yang mau bergandengan dengan pemain lokal yang tidak ada pengalaman bisnis sama sekali di bidangnya.

Beberapa jenis perusahaan yang dicari investor luar negeri relasi saya, antara lain  sebagai berikut:
  • Perusahaan logistik dan forwarding dengan revenue diatas Rp 200 miliar/tahun
  • Perusahaan consumer good/FMCG
  • Perusahaan jasa outsourcing atau pengelola karyawan kontrak yang skala bisnisnya sudah besar
  • Perusahaan TI, datacenter, system integrator
  • Perusahaan farmasi
  • Perusahaan pembiayaan
  • Perusahaan produsen suku cadang otomotif (auto part)
  • Perusahaan bidang jasa yang omsetnya diatas Rp 300 M
  • Perusahaan distribusi bahan bakar
  • Perusahaan pengolah limbah (limbah padat, limbah berbahaya, dll)
  • Perusahaan pengolahan ikan dan hasil laut (fishery processing, shrimp, crab processing, cold storage/seafood manufacturing
  • Perusahaan tambang nickel dan pengolahannya 
  • Perusahaan jaringan klinik, jaringan perawan kesehatan dan kecantikan, jaringan apotik
  • Perusahaan yang bisnisnya B2B
  • Perusahaan bidang kimia
  • Perusahaan bidang distributor, baik barang2 consumer maupun barang industrial
  • Perusahaan bidang agribisnis (pengolahan daging, dll)
  • Perusahaan manufacturing 
  • Perusahaan jaringan ritel dan resto yang sudah memiliki banyak cabang
  • Perusahaan logistik berpendingin (cold chain):  perusahaan logistik yang punya cold storage, perusahaan trucking yg berpendingin, warehouse cold storage, refrigrated trucking, dll)
  • Perusahaan industri berat (baja, alumunium, pipa, dll)
  • Perusahaan properti yang punya land bank untuk apartemen dan mall
  • perusahaan IT services/IT system integration outsourcing company
  • Perusahaan yang punya land bank untuk kawasan industri diatas 400 ha
  • Perusahaan bidanng infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
  • Perusahaan shipping yang asetnya sudah diatas Rp 400 miliar 
  • Perusahaan kemasan (kemasan fleksible, karton box, dll)
  • Perusahaan agribisnis yang omsetnya sudah diatas Rp 300 M
  • Perusahaan pupuk organik yang sudah punya pasar ritel
  • Perkebunan sawit, karet dan kopi
  • Digital startup yang brownfield stage dan late stage


Sekedar tambahan info,  di dunia investasi, dikenal ada dua jenis investor asing yang bisa diajak kerjasama, yaitu tipe investor strategis dan investor finansial. Lihat perbedaan diantara keduanya pada tulisan saya yg lain yang bisa menjelaskan hal itu. Lihat juga link di bawah ini untuk memudahkan. 




Ada salah satu tipe investor yang disebut investor private equity. Perusahaaan private equity memang tidak terkenal seperti bank atau bursa. Padahal private equity juga salah satu sumber modal dan menjadi solusi permodalan bagi para pemilik perusahaan yang bisnisnya ingin tumbuh.




Investor Private Equity, Apa itu dan Bagaimana Cara kerjanya? 


Investor jenis private equity (PE) juga salah satu sumber modal dan menjadi solusi permodalan bagi para pemilik perusahaan yang bisnisnya ingin tumbuh.  Private equity (PE) merupakan salah sumber modal untuk investasi yang berasal dari para investor seperti dana pensiun, orang-orang kaya, atau dana abadi perguruan tinggi. 

PE menjadi semacam lembaga yang ditugaskan dan dipercaya untuk memutar duit dari para pemilik uang itu. Kalau bank biasanya memberikan duit pinjaman dan kemudian minta jaminan (kolateral) berupa aset,  dan si peminjam harus mencicil tiap bulan. Maka, kalau private equity, tidak demikian. Dia invest di perusahaan semisalnya Rp 300 miliar atau Rp 400 miliar, tapi ia minta ditukar dengan saham. Nah, ada perusahaan private equity yang hanya mau invest sebagai pemegang saham minoritas dan dia tidak mau lebih dari 50%, namun juga ada yang maunya justru harus pegang kendali, harus diatas 50%. Masing-masing perusahaan private equity punya gaya dan kebijakan masing-masing.

Asal dana atau sumber dana perusahaan  private equity itu biasanya terkumpul karena keaktifan para pendiri dalam mencari dana untuk dikelola. Keluasan network para pendiri PE sangat penting untuk mendapatkan investor. Jangan heran kalau di Indonesia, para pemilik private equity pasti orang yang punya network kuat dengan pemilik dana di luar negeri. Misalnya Patrick Waluyo (Northstar), Gita Wiryawan (Ancora) dan Edwin Soeryajaya (Saratoga). Mereka semua merupakan lulusan Amerika yang channel dengan lembaga keuangan Barat sudah sangat kuat.

Kenapa mereka mau memberikan dananya untuk dikelola PE? Ya karena ingin dananya berputar dan bertambah. Ingat, seperti yang sudah dijelaskan tadi,  bahwa di negeri Barat dan Jepang, kalau kita menaruh deposito di bank, bunganya sangat minim, pertahun hanya 2% atau bahkan kurang. Kalau diputar di negara berkembang seperti di Indonesia, mereka bisa mendapatkan keuntungan minimal belasan persen per tahun. Logikanya simple, ideologi uang adalah keuntungan. Dia tidak punya loyalitas ke negara atau lokasi. Tapi ia akan datang ke tempat manapun yg bisa berkembang biak. Ini rumus uang yang jangan dibantah.

Cara investasi perusahaan private equity (PE) ke perusahaan-perusahaan target biasanya menggunakan pola bisa dua macam. PERTAMA, membeli sebagian saham yang dimiliki pemegang lama (artinya ia membeli existing saham). Dus ada pergantian kepemilikan saham. KEDUA, perusahaan yang akan diinject modal itu menerbitkan saham baru yang kemudian dibeli oleh perusahaan PE itu. Jadi perusahaan melakukan right issue lalu saham baru dibeli si investor.  Umumnya cara kedua ini lebih banyak dipilih karena berarti dana yang masuk tidak masuk ke kantong pribadi pemegang saham lama, namun menambah modal perusahaan sehingga perusahaan bisa berputar lebih baik. 

Tapi pola itu sangat case by case, bisa perpaduan. Bisa jadi ketika investor masuk ke sebuah perusahaan, ada sebagian yang masuk ke kantong pemegang saham lama untuk pembelian saham, namun ada juga sebagian yang ditaruh sebagai modal usaha.

KETIGA, Selain cara investasi melalui saham, perusahaan PE juga bisa dengan cara membeli convertible bond yang diterbitkan perusahaan yang butuh duit itu. Convertible  bond itu adalah surat utang yang suatu saat bisa diubah (diconvert) menjadi saham ketika pas jatuh tempo dan bila perusahaan yang berhutang itu tidak bisa melunasi secara sempurna atas hutang-hutangnya.

Yang perlu diketahui, perusahaan PE biasanya hanya mau invest di perusahaan yang tumbuh cepat dan margin untungnya baik. Kenapa? Karena ia harus memberi keuntungan juga ke pemodal yang menitipkan uangnya. Makanya biasanya IRR private equity selalu minta diatas 12%. Kalau bank Anda kasih bunga 8%, maka PE minimal diangka 12%. Bedanya kalau bank harus mencicil bulanan, kalau PE tidak perlu. PE hanya mengharap untung saat sahamnya dijual ke pihak lain. Note: target return/IRR masing-masing PE juga berbeda.

Idealnya, perusahaan berhubungan dengan PE bila sudah tidak bisa pinjam ke bank lagi. Ekuitas yang dimiliki perusahaan sudah mentok. Sudah tidak punya kolateral untuk pinjam ke bank. Kalau bahasa orang keuangan, debt to equity ratio sudah tidak memungkinkan  untuk pinjam ke bank. Ingat, tidak ada bank yang mau memberikan pinjaman bila tidak ada kolateral. Ini normalnya. 


Siapakah yang paling cocok untuk bermitra dengan investor PE ??

  1. Perusahaan yang akan ekspansi dan yakin punya bisnis bagus kedepan tapi nggak punya modal pertumbuhan dan sudah sulit pinjam ke bank karena debt to equity ratio sudah terlalu tinggi. Aset yang ada sudah dileverage (sudah dijaminkan ke bank) terlalu tinggi sehingga butuh investor (capital partner) yang bisa menambahkan modal untuk pertumbuhan usaha karena memang ada peluang menarik yang akan digarap.  Dalam situasi ini cocok dan penting untuk mengajak PE agar mau investasi dan kongsi di bisnis Bapak/ibu. 
  2. Perusahaan yang akan go public pada 2-4 tahun kedepan. agar nilai buku menjadi lebih baik dan kondisi permodalan tampak lebih kuat, anda gandeng PE untuk invest di perusahaan anda. nanti ia akan exit keluar dari perusahaan anda saat IPO dengan menjual saham dia ke investor publik di bursa
  3. Untuk membeli perusahaan millik pihak lain. Misalnya ada eksekutif yang tahu bahwa ada perusahaan bagus milik pihak lain yang sahamnya akan dijual tapi dia nggak punya uang untuk membeli atau mengakuisisinya. Dalam kondisi itu, ajaklah PE untuk invest bersama dan Anda yang menjadi operatornya karena Anda yang tahu cara kerja dan operasional bisnisnya sehari-hari. PE bisa menjadi pemegang saham sementara, setelah itu saham dia bisa bapak akuisisi 
  4. Untuk membeli saham perusahaan dimana tempat anda bekerja yang mungkin pemilik(bos) sudah tua/capek/bosan bisnis/mau pensiun. Kalau Anda sebagai CEO atau eksekutif tahu bahwa perusahaan dimana ia bekerja akan dijual, maka anda punya cara untuk membelinya,.Terutama kalau anda yakin  bahwa bisnisnya bagus dan ia bisa menyelamatkannya. Caranya, silahkan ajak PE untuk invest dan membelinya, dan anda akan menjadi salah satu pmegang saham penting. Saya punya beberapa kawan yang menjalankan pola ini dan sukses besar. Dulu CEO di perusahaan itu tapi tiba2 owner mau jual;al perusahaannya,  akhirnya si CEO tadi  cari pemodal untuk beli perusahaan itu.
Perusahaan PE itu biasanya invest untuk waktu yang tidak lama. Durasi hanya 3-7 tahun. Setelah itu ia akan keluar  atau exit, menjual sahamnya. Cara exit bermacam-macam. Bisa menjual sahamnya melalui bursa atau go public, bisa menjual saham ke pemegang saham lain yang mayoritas. Tapi bisa juga melalui trade sale, yakni ia menjual ke berbagai investor besar yaitu group besar yang minat di bisnis itu. Misalnya PE invest di bisnis TI lalu exit, maka ia akan tawarkan ke ACER, IBM, Microsoft, dll, untuk membeli sahamnya. Istilahnya, menjual ke investor strategis, bukan ke investor keuangan. Tapi menjual ke sesama investor keuangan juga mungkin.

Nah bagaimana di Indonesia?  Di Indonesia semakin banyak perusahaan private equity yang aktif walaupun mereka tidak punya kantor khusus di Indonesia namun mereka menunjuk orang tertentu menjadi wakilnya di Indonesia. Mereka ada yang dari Jepang, Hongkong, Singapore, Timur Tengah, Eropa dan Malaysia. Tak kurang dari 30-an investor PE di Indonesia. Hanya  saja mereka memang bekerja dengan silent dan bekerja berdasarkan trust. 30 perusahaan PE itu punya fokus investasi dan strategi investasi yang berbeda-beda dari sisi besaran per investasi hingga sektor yang ia pilih. 

Ingat cara kerja private equity itu sangat silent, diam-diam, tidak mau banyak ngomong. Namanya juga private.  Mereka memang sangat  selektif dalam memilih perusahaan yang akan ditanami modal. 

Perusahaan private equity itu SANGAT JARANG yang mau untuk investasi di perusahaan baru. Mereka mau berkongsi dengan pengusaha yang sudah terbukti bisa mengelola dan membesarkan usaha, bukan baru rencana-rencana bisnis. Mereka umumnya hanya mau invest di perusahaan yang sudah eksis dengan omset mencukupi namun butuh tambahan modal agar bisa tumbuh cepat. Atau mau juga invest di perusahaan bagus namun sedang sakit tapi ada peluang untuk diperbaiki. Banyak banget investor yang meminati Indonesia. Tapi memang butuh cara khusus mendekati mereka karena mereka memang sangat private dan hanya mau berhubungan dengan orang yang bisa mereka percaya.

Dana yang ditempat di satu perusahaan oleh private equity sangat berbeda-beda. Ada yang maunya diatas USD 100 juta dollar, ada yang hanya mau range USD 50-100 juta dollar, ada yang mau dari size USD 5 juta. 

By the way, kalau Bapak/Ibu adalah pemilik korporasi yang butuh modal dari investor private equity yang mau invest dari Rp 200 miliar sampai Rp 1,5 triliun, saya bisa  ajak salah satu investor private equity dari luar negeri yang cocok atau paling cocok untuk perusahaan bapak/ibu dan memang sedang cari-cari peluang investasi di indonesia. Sewaktu-waktu saya bisa ajak meeting direkturnya untuk meeting dengan bapak/ibu bila memang ada peluang kongsi yang menarik, bisnis yang skala dan prospeknya bagus. 

Mohon maaf, kawan-kawan saya para pemodal ini belum minat untuk bekerjasama dengan kalangan UKM, jadi baru sebatas mencari mitra dengan  korporasi besar. Jadi mohon maaf, belum bisa dibantu untuk yang masih UKM. 

Demikian info saya, semoga bermanfaat. 

Terima kasih

Silahkan hubungi kami di :  

HP    : +62812 9464 5556
Email : masadhi1976@gmail.com



Lebih baru Lebih lama