Pemilik KPN Corp, Sitorus Bersaudara Yang Terus Menggurita

Martua Sitorus dan Ganda Sitorus merupakan dua bersaudara yang kini sukses membangun GamaCorp menjadi konglomerasi baru yang kerajaan bisnisnya makin terdiversifikasi.


Bagi pelaku bisnis sawit sudah tentu kenal KPN Corp atau KPN Group. Karena group ini memiliki usaha perkembangan yang cukup besar dan disegani di market, KPN Plantation. Bisnis KPN Group sendiri banyak, tanya perkebunan sawit.


KPN Corp sebelumnya dikenal dengan Gama Corp, adalah Group perusahaan yang terdiri dari KPN Plantation (sebelumnya Gama Plantation), Cemindo Gemilang (Semen Merah Putih), Properti, saat ini kami juga mengembangkan diri dalam industri Downstream dibawah PT. Energi Unggul Persada (EUP)


Berkembangnya group ini tak lepas dari sosok dua bersaudara asal Medan, Martua Sitorus dan Ganda Sitorus. Mereka berdua yang membangun group ini. Salah satu karya monumentalnya, membangun gedung tertinggi Jakarta, Gama Tower yang didalamnya juga terdapat Westin Hotel, di Kuningan Jakarta.


Martua Sitorus dan Ganda Sitorus adalah salah satu ikon penting industri sawit di Indonesia. Bukan karena ia punya kebun sawit terluas di Indonesia. Dari sisi kepemilikan kebun bisa jadi masih kalah dari Sinarmas Group, Salim dan Astra. Ia pengusaha hebat karena menguasai industri perdagangan dan pengolahan hasil sawit, termasuk industry refinery-nya. KPN Group merupakan pemain penting di bisnis trading minyak CPO dari berbagai pemilik kebun dan pabrik sawit di Indonesia. Perusahaan ini mengolah dan mengekspornya hasil olahan sawit ke berbaga belahan dunia. 


Mesti group ini dimiliki berdua, Martua dan Ganda Sitorus, namun yang pertama merintis ialah Martua Sitorus. Setelah itu baru Martua mengajak adiknya, Ganda.


Martua Sitorus sendiri adalah sosok menarik. Martua yang bernama Tionghoa, Thio Seng Hap adalah putra pemilik toko UD Sadar di Pematang Siantar – toko besar yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari. Di Pematang Siantar orang lebih mengenal Martua sebagai Ahok, anak kedua dari lima bersaudara. Keluarga Martua termasuk salah satu orang terkaya di kota itu.


Ketika berusaha mulai menjalankan bisnis sendiri, Ahok dimodali 9 unit truk oleh orang tuanya untuk berbisnis transportasi di Medan. Di akhir 1980-an, Martua mencoba membuka pabrik palm kernel (produk sampingan kelapa sawit) kecil-kecilan dengan produksi sekitar 40 ton/hari di Belawan. Martua juga belajar dagang minyak goreng yang dibeli dari Grup Salim dan Grup Sinarmas – dari sinilah Martua punya jejaring dengan dua grup besar itu.


Ketika mulai membuka pabrik palm kernel itu pulalah Martua kenal dengan William Kuok, keponakan Robert Kuok, raja minyak sawit dan raja gula di Malaysia (Kuok Brothers) yang sangat terkenal di dunia. William adalah Direktur Pengelola Kuok Group, sehingga memang sangat berpengalaman dan dikenal secara internasional. Karena berselisih paham dengan Robert, dia keluar dan merintis usaha sendiri yang kemudian bertemu dengan Martua.


Kehebatan Martua, menurut sumber yang tak mau disebut namanya, merupakan anak muda yang low profile, pekerja keras dan punya lobi yang bagus di sejumlah perusahaan perkebunan (PTP). Di KPN, meski menjadi dirut, Martua biasa terjun langsung dalam segala hal. “Semua dia tangani, tapi tetap ada tim manajemennya, menguasai secara detail seperti bisnis orang-orang Cina pada umumnya,” katanya. Faktor utama mengapa KPN membesar adalah karena Martua menguasai local sourcing.


Martua adalah sosok yang hebat sehingga bisa membesarkan perusahaan. Di adalah sosok yang energik. Dia bisa mengembangkan bisnis memulai bisnis dari hilirnya dulu, bukan di perkebunannya (hulu). Martua yang lulusan Fakultas Ekonomi HKBP Nommensen Medan, ini awalnya memulai bisnis kecil-kecilan di PTPN VI, di bidang pengangkutan minyak sawit. Dia tipe self-made man, membangun dirinya sendiri dan tahu apa yang diperbuat. Waktu mahasiswa, dia  belajar dengan baik, dan ketika berbisnis juga berbisnis dengan baik.


Ia pandai merekrut orang-orang yang kapabel sehingga bisa menangani perusahaan yang sangat cepat bergerak, terintegrasi vertikal dan horisontal dengan baik. Jaringan internasionalnya – khususnya sumber finansial – sangat kuat. Jika tidak kuat sumber finansialnya, tidak mungkin bisa melakukan perdagangan dan akuisisi perusahaan. Wilmar kini jelas semakin kuat setelah adiknya ikut bergabung dan memperkuatnya. Tak heran kalau makin aktif ekspansi di bisnis properti tak hany di Indonesia namun juga di sejumlah negara. 



Baca artikel lain: 


Lebih baru Lebih lama