Pemilik Alfamart, Bukan Lulusan Perguruan Tinggi Top, Kisah Sukses Bisnisnya Menarik

 Pendidikan tinggi bukan jaminan  untuk menjadi pengusaha sukses. Tengoklah pendiri jaringan ritel Alfamart yang BUKAN orang kuliahan. Saat ini warga kota atau desa di Indonesia umumnya tahu jaringan toko ritel Alfamart. Jaringan toko Alfamart dan Alfamidi memang ada dimana-mana, jumlah tokonya sudah lebih dari 15.000 outlet toko. Perusahaan ini  membukukan penjualan puluhan triliun tiap tahunnya. Tak heran bila pemilik dan pendiri Alfamart ini, Djoko Susanto, kini termasuk sebagai salah satu dari 50 orang terkaya di Indonesia. Yang menarik dipelajari dari suksesnya ada banyak hal. 




Djoko Susanto, pendiri Alfamart, sukses bukan karena ijazah


Djoko Susanto itu lahir dari keluarga besar yang ayahnya adalah keturunan Tionghoa. Ia lahir dengan 10 bersaudara. Orang tuanya berprofesi sebagai pedagang dan pemilik kios ukuran kecil. Kios milik orang tuanya berlokasi di Pasar Arjuna, Jakarta. Djoko sudah mulai terlibat membantu kerja di toko milik orang tua sejak kecil, dan pada usia 17 tahun telah memulai bisnis.


Yang unik, Djoko yang punya nama Tionghoa Kwok Kwie Fo itu tidak melanjutkan sekolah dan memilih untuk menjaga toko orang tuanya sejak kecil. Ia giat untuk berdagang dan tidak malu walaupun bukan lulusan dari perguruan tinggi terkemuka. Ya, Djoko Susanto memang hanya sekolah sampai kelas 1 SD karena langsung membantu usaha toko milik orang tua. 


Djoko adalah sosok pekerja keras. Walaupun ia bukan lulusan perguruan tinggi, namun ia belajar dari lapangan langsung. Ilmu-ilmu bisnisnya ia temukan di lapangan, saat ia menjalani bisnis dan dagang tersebut. 

Ia sangat sungguh-sungguh dalam membantu pengelolaan toko kelontong milik orang tua. Ia kelola dan perbaiki manajemennya,  hingga akhirnya punya ratusan lokasi cabang toko di pasar-pasar tradisional. Tapi apa daya, usaha yang berkembang pesat di Pasar Arjuna terkena musibah. Tahun 1976 musibah kebakaran menerpa kios Djoko di wilayah pasar Arjuna sehingga ludes terbakar, hingga modal 80-90 persen miliknya habis begitu saja.  


Ia mengalami sedih dan tangis. Modal-modalnya ikut terbakarnya disana. Tapi hidup tidak boleh berhenti. Djoko Susanto muda tak mau lama larut dalam kesedihan. Kejadian musibah itu menjadi pengalaman buruk yang justru menjadi pelecutnya untuk bangkit. 


Ia pun mulai mencoba bangkit dari kesedihan dengan menghidupkan kembali usaha dagangnya. Tidak mudah menghilangkan pilunya. Tapi ia merasa harus bangkit. Ia pun lalu pelan-pelan mengembalikan tokonya dan membangunnya, serta menghubungi jaringaannya bahwa ia sudah mulai aktif bisnis kembali.  Berkat kerja kerasnya, tak butuh waktu lama untuk bisa bangkit dan menyamai level sebelum terbakar.  

Setelah  usahanya balik seperti keadaan awal, ia mulai melirik jasa perdagangan/jualan rokok. Menurutnya, kala itu rokok menjadi barang yang selalu laku dan banyak peminatnya. Produk yang sangat fast moving di market. Sangat mudah untuk menjualnya.

Itulah salah satu kunci sukses dari cara dagang Djoko, berjualan pada produk yang memang konsumen sudah punya tarikan kuat. Konsumen memang sangat butuh produk itu sehingga dengan promosi yang minimal pun konsumen tetap mencari produk itu. Jadi sebagai pedagang tinggal melakukan inovasi-inovasi sampingan supaya dagangannya yang dipilih. 


Usaha dagang rokok ia kembangkan dengan membuka jaringan baru. Ia melakukan suatu perubahan agar bisa diterima mitra-mitra pengecer. Pendekatan yang tepat dengan para pengecer dan mitra-mitra bisnis membuat rokok yang dijual Djoko juga laku. Ia bahkan disebut sebagai bintang baru di bidang distribusi rokok. Tak heran bila kemudian Putera Sampoerna, pemilik pabrik rokok HM Sampoerna Group, tertarik meminang Djoko sebagai mitra distribusinya. Setelah melalui percobaan buka 15 outlet di Jakarta, Putera Sampoerna kemudian yakin bahwa Djoko memang sangat capable.


Dari sana kemudian keduanya membentuk perusahaan patungan di bidang distribusi, PT Panamas, tahun 1985. Putera Sampoerna yang saat itu sudah konglomerat punya 70% saham, sedangkan Djoko yang saat itu belum menjadi pengusaha besar, diberi saham 30%. Di saat yang sama, sejak 1989, karena saking percayanya dengan Djoko, Putera Sampoerna bahkan meminta Djoko agar duduk sebagai direksi di perusahaan rokok milik Putera, PT HM Sampoerna.


Kolaborasi Djoko dan Putera Sampoerna ini berjalan manis. Sehingga keduanya kemudian sepakat mengembangkan jaringan bisnis ritel minimarket yang kemudian menjadi cikal bakal Alfamart. Dalam patungan bisnis ini, Djoko juga masih sebagai pemegang saham minoritas karena 70% dikuasai Putera yang saat itu sebagai  pemodal utama. 


Kerjasama Putera dan Djoko ini sukses besar. Inilah yang kemudian menjadi embriyo dari jaringan ritel Alfamart. Karena, untuk menjangkau kalangan menengah ke bawah yang mencari harga murah dan kenyamanan, tahun 1994 keduanya membuka Alfa Minimart yang kemudian berganti nama menjadi Alfamart. Tadinya Djoko akan menamakannya Sampoerna Mart, tapi kemudian memilih Alfa, yang  lebih mudah untuk dikenal.


Alfamart berani membuat konsep yang berbeda. Melakukan inovasi. Di tahun itu masih sedikit toko yang modern yang nyaman untuk belanja. Apalagi kelas toko kecil. Umumnya dikelola dengan model toko kelontong yang semrawut.  Asal ada barang dan penataannya asal, acak adul.  Konsep toko ritel yang dibangun dan dikelola Djoko itu menarik dan itulah kenapa bisa sukses dan berkembang. Konsepnya modern store tapi dekat dengan warga, dan menjual kenyamanan. Makanya disebut convenient store. Toko yang nyaman, pakai AC, bersih, menjual produk-produk dengan kemasan yang rapi, bersih, dan pelayanan ramah.  Orang yang biasa berbelanja di warung tradisional berasa naik kelas, ada unsur gengsi. 


Barang-barang dagangan di toko ditata dengan rapi, dikelompokkan secara konsisten sehingga konsumen mudah mencari dan memilih. Setelah itu, pembukaan outlet juga diberi kesempatan kepada masyarakat untuk membeli dan memiliki toko dengan model franchise. Itulah yang membuat Alfamart cepat berkembang, terlebih dibantu modal oleh Putera Sampoerna. Tak bisa dicegah, jaringan Alfamart kemudian tumbuh makin meroket.


Pada tahun 2005, Putra Sampoerna memutuskan menjual perusahaan rokoknya ke Phillip Moris.  Dalam hal ini Putera menjual perusahan rokok dan para anak perusahaannya, termasuk 70 persen saham di Alfamart, kepada Philip Morris, sebesar 5 miliar dollar AS. Djoko tidak punya dana untuk membeli saham yang dimiliki 70% saham itu karena dana Djoko saat itu belum mencukupi. Masih sangat terbatas. Tapi Djoko Susanto punya cara, yakni berkolaborasi dengan pemodal kuat yang mengelola uang investasi.


Djoko Susanto kemudian membeli saham itu setelah sekian tahun karena ia sudah bisa menabung dan mencari sumber keuangan lain. Strategi ini juga menjadi kunci sukses Djoko yang sampai sekarang tetap menjadi pengendali Alfamart, perusahaan yang memang ia yang mendirikan. Ia bisa mencari investor private equity yang mau diajak investasi untuk sama-sama untung. Win-win. Sejak mengendalikan Alfamart, Djoko Susanto terus gerak cepat menambah ratusan mitra pemodal waralaba. 


Ia juga terus membangun merek Alfamart sehingga makin dikenal di market. Tak heran bila kini jumlahnya sudah lebih dari 17.000 lokasi. Dan Djoko Susanto pun kini sudah menjadi salah satu orang terkaya Indonesia. Djoko juga sudah masuk ke bisnis lain. Bahkan walaupun ia bukan lulusan perguruan tinggi, namun ia kini sudah mendirikan universitas sendiri dengan biaya murah, yakni Universitas Bunda Mulia yang banyak diminati warga tak mampu.

Jadi, jangan remehkan usaha dagang toko. Yang membedakan ialah visi kalian. Kalau anda punya satu toko lalu puas dan bermalas-malas, ya tokonya akan segitu-gitu saja. Tapi kalau kalau kalian punya usaha toko, lalu punya visi bisa mengembangkannya punya 40 atau 50 toko dan dikelola profesional, maka itu akan bagus dan bisa memperkerjakan banyak orang. Akan bisa membantu sesama. Jadi,  mulailah dengan meluruskan visimu. 

 #pemilik alfamart #siapa pemilik alfamart #pendiri alfamart #kisah sukses alfamart


Lebih baru Lebih lama