Mengulik Rahasia Sukses Ismaya Group, Penguasa Bisnis Resto & Kafe Kelas Atas



Bagi kalangan profesional  yang bisa pergi ke mall-mall atau gedung kantor modern di sekitar Jakarta, tentu pernah tahu salah satu dari kafe atau resto dari Group Ismaya berikut ini. Apakah itu Djournal Coffee, Social House, Sushigroove, The People’s Cafe, Tokyo Belly, A/A Bar, Dragonfly, Blackbyrd, Djamu Djamu, Kitchenette, Manarai, Mr. Fox, Osteria Gia Pizza e Birra, Publik Markette, atau Social Garden. 


Resto dan kafe dari Group Ismaya biasanya berada di ruang premium di mall dan kantor Jakarta, dan saat ini total outlet kafe/restonya sudah lebih dari 100 lokasi. Kafe dan resto yang dibuat biasnnya tampil dengan konsep yang unik, mengusung konsep gaya hidup yang berani berbeda. Dari sisi omset bisnis, sudah tentu ratusan miliar per tahun. 


Siapa sih pemilik dan pendiri Group Ismaya? 


Group Ismaya didirikan oleh trio sekawan, Bram Hendrata, Christian Rijanto dan Brian Sutanto. Mereka mendirikan bisnis ini sedari masih muda. Usia mereka bertiga memang sebaya, kelahiran sekitar tahun 1976.  Dan uniknya, tak seorang pun dari trio sekawan ini yang berlatar belakang di industri F & B. Baik Bram Hendrata, Christian Rijanto dan Brian Sutanto sebelumnya lebih banyak berkecimpung dalam dunia keuangan dan investasi. Tapi ketiganya memang punya hobi yang sama, yaitu hobi makan. 


Kebetulan mereka bertiga memang datang dari keluarga mapan kelas menengah yang terkadang bepergian ke luar negeri. Saat di luar negeri, mereka mendapat inspirasi karena melihat berbagai resto yang bagus disana, dan mereka ingin sekali membawa konsep resto itu Indonesia. Mereka memulai usaha resto tahun 2002, dan resto pertama yang ia dirikan ialah Blowfish Kitchen & Bar. Ismaya mendirikan Blowfish dengan menawarkan konsep baru, resto Jepang modern yang membidik pelanggan kelas atas.


Bram Hendrata, CEO, Cofounder Ismaya Group


Untuk mendirikan resto pertama tersebut Bram dkk banyak belajar. Bram bahkan sempat terlebih dulu magang bekerja di resto milik temannya di USA agar bisa belajar. Banyak kesulitan yang mereka hadapi untuk mendirikan resto pertama.  Kafe yang dibangunnya itu menyatukan konsep resto dan klub. Hanya saja, yang jadi tantangan saat itu, sudah banyak resto dan klub di negeri ini tapi tingkat kesuksesannya rendah. Maka, perlu ada nilai tambah yang disuguhkan kafe-kafenya. Di samping makanan yang khas, desainnya juga harus menarik dan belum pernah ada di sini.


Setelah itu Ismaya mendirikan resto Sushigroove pada 2005.  Sushigroove merupakan resto untuk mass market, sehingga gerainya cukup banyak. Setelah itu mendirikan pula Puro Ristorante & Bar mengusung konsep resto Italia (traditional Italian cooking), juga menyasar pelanggan papan atas. Puro berada di Wisma Mulia Jakarta, bersebelahan dengan Blowfish. Setelah sukses pada 5 tahun pertama, Group Ismaya pun makin ekspansif dan membuka resto dan kafe baru di berbagai kota, tak hanya Jakarta. Secara bertahap Ismaya tumbuh berlari dengan restoran-restoran seperti Pizza e Birra, Kitchenette, Publik Markette, Tokyo Belly, dan lainnya.


Diantara brand kafe yang berkembang cepat milik Ismaya Group ialah Djournal Coffee dan The People’s Cafe yang total outlet sudah lebih dari 60 outlet. Djournal Coffe misalnya sudah hadir di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali hingga Yogyakarta, Djournal Coffee menyajikan kopi artisan harian yang kasual. Pun di The People’s Cafe yang di kafe-kafenya bisa untuk bekerja sembari santai. Djournal, misalnya sudah hadir di Bandung  sejak 2013. Kafe ini menyajikan kopi sebagai menu andalan dan didesain dalam suasana kafe yang modern namun nyaman.


Ciri khas kafe dan resto milik Ismaya Group, biasanya dari sisi desain mereka tampil tidak standar atau tidak umum, tapi berani mengusung konsep desain baru dan berbeda. Selain itu juga selalu mengusung konsep modern dan kekinian.  Selain itu Ismaya juga membuat portofolio resto yang beragam, ada resto premium yang jumlah outletnya dibuat sangat terbatas dan sangat ekslusif, namun ada  juga kafe yang pasarnya massif dan outletnya dimana-mana.  Yang pasti masing-masing merek resto di Ismaya Group dikelola perusahaan (PT) yang berbeda karena tiap unit bisnis biasanya investornya berbeda-beda. 


Diantara kiat percepatan bisnisnya, mereka bertiga memang tak hanya mengandalkan modal dari kantong sendiri, tetapi juga menggandeng sejumlah investor dari kalangan pribadi, private equity dan venture capital untuk mendanai pengembangan bisnis dan ekspansi buka outlet baru. Antara lain, Ismaya Group pernah memperoleh pendanaan sebesar $18,1 juta atau setara Rp 266 miliar yang dipimpin oleh East Ventures. Sebelumnya, Falcon House Partners juga sudah berpartisipasi dengan berinvestasi di Ismaya. Biasanya dana dari investor digunakan untuk memperbanyak outlet, penguatan layanan pengiriman makanan dan investasi teknologi.


Ismaya juga sudah melebarkan sayap ke industri event promotion dengan Ismaya Lieve. Di bawah bendera Ismaya, berbagai artis papan atas telah menunjukkan aksinya di panggung festival musik tanah air. Festival musik seperti Djakarta Warehouse Project dan We The Fest sukses menjadi kegiatan tahunan yang menggaet minat seantero Asia Tenggara.


Untuk menyukseskan pengelolaan bisnis yang sudah menggurita,  ketiga pendiri itu saling berbagi tugas. Posisi Direktur Pengelola dan CEO dipegang Bram, yang juga menangani pengembangan bisnis, sedangkan Christian Rijanto sebagai Direktur Pemasaran dan Brian Sutanto sebagai Direktur Keuangan. Mereka saling berbagi tugas dan kompak sehingga bisa membesarkan group usaha restonya yang kini sudah lebih dari 100 outlet. 


Bacaan Lain : 

Lebih baru Lebih lama