Rahasia Sukses Pendiri Alfamart, Djoko Susanto Dan Kisah Bisnisnya

Djoko Susanto, pendiri Alfamart, jagoan toko ritel modern


Siapa sih yang tak kenal jaringan minimarket Alfamart? Rasanya kita semua tahu jaringan toko ritel itu. Jaringan toko Alfamart dan Alfamidi nyaris ada di semua sudut kota dan kabupaten. Jumlah tokonya, per 2020 sudah lebih dari 17.000 lokasi toko. Toko ini bahkan tak hanya ada di kota-kota, sekarang juga masuk ke desa-desa. Karena demikian suksesnya Alfamart, bisa mengantarkan pendirinya,  Djoko Susanto, sebagai salah satu dari 100 orang terkaya di Indonesia.


Siapa Djoko Susanto Dan Apa Rahasia Suksesnya? 


Djoko Susanto adalah seorang pengusaha keturunan Tionghoa. Ia lahir dari keluarga 10 bersaudara. Nama kecil Djoko bernama Kwok Kwie Fo. Orang tuanya juga seorang pedagang dan pemilik kios walaupun bukan sebuah toko kios yang besar. Kios milik orang tuanya itu bernama Toko Sumber Bahagia, berlokasi di Pasar Arjuna, Jakarta. Djoko sudah mulai terlibat di toko milik orang tua sejak kecil dan pada usia 17 tahun telah memulai bisnis.


Saat itu ia tidak melanjutkan sekolah dan memilih untuk menjaga toko orang tua. Seperti halnya kebanyakan orang Tionghoa, ia juga giat untuk berdagang. Sifat ini juga dimiliki oleh Djoko Susanto. Ia tidak merasa gengsi atau minder untuk menjaga toko. Ia tidak malu walau bukan lulusan dari perguruan tinggi terkemuka. Djoko Susanto memang hanya sekolah sampai kelas 1 SD karena langsung membantu usaha toko milik orang tua. 


Di tangan Djoko, usaha bisnis kelontong milik orang tua dikembangkannya sehingga bisa bertumbuh baik dan berkembang tak hanya di satu cabang. Bahkan sempat punya ratusan lokasi cabang toko di pasar-pasar tradisional. Djoko selalu berusaha inovatif dan terus mencari celah apa yang berbeda dengan pemain lain. Namun takdir berkata lain, usaha yang berkembang pesat di Pasar Arjuna terkena musibah. Pada 1976 musibah kebakaran membuat kios Djoko di wilayah pasar Arjuna terbakar, hingga modal 80-90 persen miliknya habis begitu saja.  


Musibah kebakaran itu jelas menyisakan kepedihan, tangis dan sesal. Sangat manusiawi, sedih. Modal-modalnya ikut terbakarnya disana. Tapi hidup tidak boleh berhenti. Djoko Susanto muda tak mau lama larut dalam kesedihan. Kejadian musibah itu menjadi pengalaman buruk yang justru menjadi pelecutnya untuk bangkit. 


Ia pun mulai mencoba bangkit dari keterpurukannya dengan menghidupkan kembali usaha dagangnya. Tak butuh waktu lama untuk bisa bangkit dan menyamai level sebelum terbakar.  Setelah  usahanya balik seperti keadaan awal, ia mulai melirik jasa perdagangan/jualan rokok. Menurutnya, kala itu rokok menjadi barang yang selalu laku dan banyak peminatnya. Produk yang sangat fast moving di market. Sangat mudah untuk menjualnya. 


Itulah salah satu kunci sukses dari cara dagang Djoko, berjualan pada produk yang memang konsumen sudah punya tarikan kuat. Konsumen memang sangat butuh produk itu sehingga dengan promosi yang minimal pun konsumen tetap mencari produk itu. Jadi sebagai pedagang tinggal melakukan inovasi-inovasi sampingan supaya dagangannya yang dipilih. 


Usaha dagang rokok ia kembangkan dengan membuka jaringan baru. Ia melakukan suatu perubahan agar bisa diterima mitra-mitra pengecer. Pendekatan yang tepat dengan para pengecer dan mitra-mitra bisnis membuat rokok yang dijual Djoko juga laku. Ia bahkan disebut sebagai bintang baru di bidang distribusi rokok. Tak heran bila kemudian Putera Sampoerna, pemilik pabrik rokok HM Sampoerna Group, tertarik meminang Djoko sebagai mitra distribusinya. Setelah melalui percobaan buka 15 outlet di Jakarta, Putera Sampoerna kemudian yakin bahwa Djoko memang sangat capable.


Dari sana kemudian keduanya membentuk perusahaan patungan di bidang distribusi, PT Panamas, tahun 1985. Putera Sampoerna yang saat itu sudah konglomerat punya 70% saham, sedangkan Djoko yang saat itu belum menjadi pengusaha besar, diberi saham 30%. Di saat yang sama, sejak 1989, karena saking percayanya dengan Djoko, Putera Sampoerna bahkan meminta Djoko agar duduk sebagai direksi di perusahaan rokok milik Putera, PT HM Sampoerna.


Kolaborasi Djoko dan Putera Sampoerna ini berjalan manis. Sehingga keduanya kemudian sepakat mengembangkan jaringan bisnis ritel minimarket yang kemudian menjadi cikal bakal Alfamart. Dalam patungan bisnis ini, Djoko juga masih sebagai pemegang saham minoritas karena 70% dikuasai Putera yang saat itu sebagai bohir, pemodal utama. 


Toko Alfamart, menjual kenyamanan 

Rahasia Sukses Dan Cikal-Bakal Alfamart


Kerjasama Putera dan Djoko menginspirasi keduanya untukl membuka supermarket Alfa Toko Gudang Rabat, inilah yang kemudian menjadi embriyo dari jaringan ritel Alfamart. Karena, untuk menjangkau kalangan menengah ke bawah yang mencari harga murah dan kenyamanan, tahun 1994 keduanya membuka Alfa Minimart yang kemudian berganti nama menjadi Alfamart. Tadinya Djoko akan menamakannya Sampoerna Mart, tapi kemudian memilih Alfa, yang  lebih mudah untuk dikenal.

Kunci sukses Alfamart yang dibangun Djoko pada konsep tokonya. Ia berani membuat konsep yang berbeda. Melakukan inovasi. Di tahun itu masih sedikit toko yang modern yang nyaman untuk belanja. Apalagi kelas toko kecil. Umumnya dikelola dengan model toko kelontong yang semrawut.  Asal ada barang dan penataannya asal, acak adul. 

Konsep toko ritel yang dibangun dan dikelola Djoko itu menarik dan itulah kenapa bisa sukses dan berkembang. Konsepnya modern store tapi dekat dengan warga, dan menjual kenyamanan. Makanya disebut convenient store. Toko yang nyaman, pakai AC, bersih, menjual produk-produk dengan kemasan yang rapi, bersih, dan pelayanan ramah. 


Tokonya juga dengan lahan parkir yang memadai. Orang yang biasa berbelanja di warung tradisional berasa naik kelas, ada unsur gengsi. Barang-barang ditoko ditata dengan rapi, dikelompokkan secara konsisten sehingga konsumen mudah mencari dan memilih. Setelah itu, pembukaan outlet juga diberi kesempatan kepada masyarakat untuk membeli dan memiliki toko dengan model franchise. Itulah yang membuat Alfamart cepat berkembang, terlebih dibantu modal oleh Putera Sampoerna. Tak bisa dicegah, jaringan Alfamart kemudian tumbuh makin meroket.


Membeli Saham Tambahan Sehingga Menjadi Pengendali


Pada tahun 2005, Putra Sampoerna memutuskan menjual perusahaan rokoknya ke Phillip Moris.  Dalam ini  Putera menjual perusahan rokok dan para anak perusahaannya, termasuk 70 persen saham di Alfamart, kepada Philip Morris, sebesar 5 miliar dollar AS. Djoko tidak punya dana untuk membeli saham yang dimiliki 70% saham itu karena dana Djoko saat itu belum mencukupi. Masih sangat terbatas. Tapi Djoko Susanto punya cara, yakni berkolaborasi dengan pemodal kuat yang mengelola uang investasi.


Kebetulan Djoko kenal dan punya link dengan perusahaan investasi, Northstar Pacific yang bisnisnya memang memodali pihak lain. Northstar itu merupakan perusahaan private equity yang didirikan Patrick Waluyo, anak mantu mantan Presiden Astra Group, TP Rachmat, yang mengelola dana-dana global untuk investasi di Indonesia. Northtar kemudian membeli saham Alfa yang sebelumnya milik Putera Sampoerna. Tapi, investor private equity selalu berinvestasi dengan pola jangka waktu yang sementara, temporer, biasanya setelah 5-7 tahun saja lalu menjual sahamnya. Dan benar, setelah beberapa tahun, saham Alfamart yang dipegang Northstar tersebut dijual melalui go public (IPO) di bursa dan sebagian dibeli Djoko. 


Djoko Susanto sendiri juga sudah bisa membelinya setelah sekian tahun karena ia sudah bisa menabung dan mencari sumber keuangan lain. Yang pasti, dengan mengajak Northstar, saham Alfamart tidak jatuh ke pihak yang ia tidak bisa kendalikan. Strategi ini juga menjadi kunci sukses Djoko yang sampai sekarang tetap menjadi pengendali Alfamart, perusahaan yang memang ia yang mendirikan. Ia bisa mencari investor private equity yang mau diajak investasi untuk sama-sama untung. Win-win.


Sampai titik ini, salah satu pelajaran yang bisa diambil, bila ingin sukses berbisnis, jangan sungkan untuk mengajak dan belajar dari pemain kuat. Seperti yang dilakukan Djoko dengan menggandeng Putera Sampoerna dan Northstar Group. Namun tetap harus bisa mengendalikan arah, jangan asal ikut, supaya tidak dicaplok. Penting mencari mitra yang saling mengerti, tidak serakah dan chemistry-nya sama.  


Alfamart Yang Makin Melesat


Yang pasti, sejak mengendalikan Alfamart, Djoko Susanto terus tancap gas membangun jaringan ritel modern ini. Tiap tahun buka ratusan outlet baru, menambah ratusan mitra pemilik produk, dan menambah ratusan mitra pemodal waralaba. Ia juga terus mengembangkan merek Alfamart sehingga makin dikenal di market. Tak heran bila kini jumlahnya sudah lebih dari 17.000 lokasi. Dan Djoko Susanto pun kini sudah menjadi salah satu orang terkaya Indonesia dengan aset triliunan. 

Lebih baru Lebih lama