Luar Biasa, Softex Diakuisisi Kimberly-Clark Dengan Valuasi Yang Nyaris Tiga Kali Sales, Total Nilai Transaksi US$ 1,2 Miliar


Baru-baru ini perusahaan yang tercatat di Bursa Efek New York (NYSE), Amerika Serikat (AS), Kimberly-Clark Corp mengumumkan bahwa sedang proses mengakuisisi saham PT Softex Indonesia senilai US$ 1,2 miliar alias sekitar Rp 17,7 triliun. Strategi itu merupakan bagian dari startegi pertumbuhan divisi bisnis popok dan pembalut mereka di pasar Asia Tenggara, terutama di Indonesia. Sebenarnya produk-produk Kimberly-Clark sebelumnya juga sudah hadir di Indonesia, namun kinerjanya kalah bersaing dengan produk-produk Unicharm, Softex dan Laurier (Kao). Kimberly-Clark telah memasarkan produknya pada 175 negara. Sejumlah produk perseroan yang cukup terkenal adalah popok bayi Huggies, serta tisu dan pembalut wanita Kleenex yang juga sudah hadir di Indonesia.

Manajemen Kimberly-Clark menilai, Indonesia merupakan pasar yang besar dengan prospek masa depan yang menarik. Akuisisi berpotensi meningkatkan posisi Kimberly-Clark yang saat ini hanya terbatas di AS, menjadi salah satu perusahaan personal care dengan pangsa pasar yang kuat di Asia Tenggara.

Saat ini, nilai pasar popok di Indonesia diperkirakan mencapai US$ 1,6 miliar, atau terbesar keenam di dunia lantaran terdapat lima juta kelahiran bayi setiap tahun. Pada 2019, Softex Indonesia membukukan penjualan bersih sekitar US$ 420 juta. Sebanyak 80% penjualan tersbeut dikontribusikan dari penjualan popok. Saat ini, produk popok Softex, seperti merek Sweety dan Happy Nappy menduduki posisi pangsa pasar nomor dua. Kontribusi penjualan Softex Indonesia berikutnya berasal dari produk feminine care dan adult care.

Softex Indonesia diperkirakan menempati pangsa pasar nomor tiga dalam kategori pembalut wanita dengan merek Softex. Sedangkan pada kategori popok dewasa, perusahaan berada di pangsa pasar nomor dua dengan merek Confidence. President of Kimberly-Clark’s Asia-Pacific consumer business Aaron Powell mengatakan, pihaknya berharap dapat menggabungkan kekuatan dan inovasi serta membangun merek Softex, sehingga memperluas kesuksesan Softex Indonesia secara berkelanjutan.

Mengutip website resmi Softex Indonesia, perseroan berdiri sejak 1976, dan kini telah menjual produk di lebih dari 35 negara di seluruh dunia termasuk Afrika, Eropa dan Asia Pasifik. Perseroan memiliki dua fasilitas produksi yang berlokasi di Sidoardjo Jawa Timur, dan Tangerang, Banten. Softex diketahui merupakan perusahaan yang terafiliasi dengan PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL).


Perjanjian definitif aksi akuisisi telah dilakukan pada 3 September 2020 namun tak disebutkan berapa jumlah saham yang diambil alih. Softex sendiri dikendalikan oleh keluarga Sjamsul Nursalim dan CVC Capital Partners -- perusahaan private equity yang juga sudah menanamkan sahamnya di Matahari dan Garudafood.

Transaksi akuisisi ini akan dibayar secara tunai. Adapun, Morgan Stanley & Co. LLC dan Centerview Partners LLC bertindak sebagai penasihat keuangan transkasi ini. Sementara Gibson Dunn beserta Crutcher LLP ditunjuk sebagai penasihat hukum. Chairman and CEO Kimberly-Clark Mike Hsu mengatakan, akuisisi ini merupakan upaya perseroan untuk mempercepat pertumbuhan di pasar negara berkembang.

Yang menarik dari deal ini ialah nilai akusisinya yang senilai US$ 1,2 miliar alias sekitar Rp 17,7 triliun. Rumor di market menunjukkan bahwa valuasi transaksi ini hampir mendekati 3 kali dari total sales Softex. Luar biasa. Hal ini menjadi penanda yang semakin kuat bahwa valuasi saham perusahaan consumer good di Indonesia memang cukup bernilai alias mahal. Ini terjadi baik di transaksi dan valuasi perusahaan consumer good yang sudah listed seperti Indofood atau Mayora, maupun transaksi penjualan saham antar perusahaan secara trade sales melalui non bursa. Yang pasti, Kimberly-Clark akan mendanai transaksi akuisisi dari gabungan antara hutang dan kas internal, sebagaimana release yang sudah disebarkan.


Baca artikel lain: 
Lebih baru Lebih lama